Mereka bilang bukan kamu…

 

Kenapa?

Saya sendiri tidak tahu.

Apa karena kamu terlalu sering mengecewakan mereka?

Mereka teman-teman saya.

Mereka tidak mau kamu memperlakukan saya seperti kamu memperlakukan mereka.

Iya. Mereka tidak ingin saya kecewa.

Mereka teman-teman yang baik kan??

Lalu apa?

Saya menurut.

Karna saya tidak mau dibilang buta.

Dan karna mungkin mereka memang benar.

Kamu ingat kan? Saya lalu pergi. Jauh.

Hmm… tidak sejauh itu sih, supaya kamu masih bisa menjangkau saya jika kamu ingin.

Kemudian apa yang saya rasakan?

Sedih. Kehilangan. Tertekan.

Tidak. Saya tidak merasakan semua itu.

Saya tidak sedih karena saya masih bisa melihatmu tersenyum, dan itu membahagiakan.

Saya tidak kehilangan karena saya masih bisa memandangimu sepanjang hari dan menelponmu sesekali.

Bahkan, saya tidak juga merasa tertekan, karena saya tidak lagi harus berpikir, kenapa kamu tidak membalas pesan singkat saya. Tidak lagi harus menjaga semua tingkah saya, yang apakah itu membuatmu berkenan atau justru semakin menjauhkan dirimu dari jangkauan.

Lega.

Kemudian hari itu, ketika tiba-tiba kamu menyapa kembali.

Heii!! Pertahanan saya runtuh. Dalam sekejap.

Jarak yang sudah sempat tercipta, hilang.

Kita seperti kembali berdiri berhadapan.

Saya bahkan bisa mencium wangi tubuhmu.

Dan berharap bisa benar-benar memelukmu.

Saya memang tidak sedih, kehilangan, dan tertekan saat pergi jauh darimu.

Tapi saya merasa lebih bahagia sekarang.

Jika kemarin saya lega. Saat ini saya merasa sangat lega.

Mungkin, saya memang lebih suka tersakiti oleh permainan hati yang sedang kamu lakonkan.

Atau menebak-nebak, apakah kali ini kamu membalas pesan singkat saya, dan kegirangan setengah mati kalau itu terjadi.

Iya.

Saya tahu sekarang.

Saya memang mencintai kamu.

Dengan semua “ketololan” kamu.

Dengan semua “ke-ngga banget-an” kamu.

Dengan semua kelakuan kamu yang sering membuat saya menangis.

Saya cinta kamu.

Saya tahu itu.

Saat mendengar suaramu pagi tadi.

 

 

 

PS: Jangan terlalu lama membiarkan saya menunggu ya, soalnya “si keren” itu, tadi “menyapa” saya loh… dan “papah” juga prefer saya jalan ama “si keren”. Kalo kamu kelamaan, nanti hati saya direbut sama “si keren” gimana???

~ by gendhismanis on April 22, 2009.

7 Responses to “Mereka bilang bukan kamu…”

  1. hahaha…
    iyah tuch mas big panda cepatlah ambil keputusan disambar yang lain baru nyesel ntar…

    menyesal itu gak enak lho mas big panda hihihi…

  2. ihh.. romantisnyaaaa…
    emang enak ya say.. kalo lagi fall in lupe..
    deg2an mulu rasanya.. trus suka senyum2 sendiri hihihi..

    ah, semoga si panda gak terlambat karna lu udah sama si keren dan semoga si papah juga nggak cemburu
    sek..sek…
    tapi kok banyak sih bu??
    yg bener yg mana nihhhh???? hahahaha…

  3. Ah, hati ngga akan kemana, menunggu sama seperti menguji kesabaran….

  4. hmm.. cuman mau nerusin pesen dari si papah…
    ” kalo papah mah, setuju sama pilihan bunda, mau panda atw ganteng… yg penting bunda happy…if it’s good enough for you… it’s good enough for me… it’s good enough for 2… that all I want to said”

  5. senyumnya manis dan anget banget…. :)

  6. sama si keren aja

  7. ciiieeee….yg sedang fall in love ya…

    ok, gw harus kenyalan duyu….
    so, salam kenyal and sekenyal-kenyalnya ya mbak….

    mampir dong ..and kasih gw kritikan yg menyengat yaa….thx so much…:-)…

Leave a Reply